Liputan Khusus INSPIRASI Vol. 96 Juni-Juli 2018 Perspektif

Dukacita hanyalah sepenggal pengalaman yang tidak diharapkan dari sekian banyak pengalaman indah yang TUHAN anugerahkan. (Imanuel Kristo)

Suka dan duka bagaikan dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Begitu pula kelahiran dan kematian. Namun, natur manusia cenderung mencari kenikmatan dan menghindari penderitaan. Dalam duka ada ruang untuk peduli dan berbagi. Inilah yang dilakukan PPK (Perkumpulan Penghiburan Kedukaan) Tabitha, lembaga milik Gereja Kristen Indonesia yang bergerak di bidang pelayanan kedukaan.

Pelayanan Etis Teologis

Sebagaiman diungkapkan Pdt. Imanuel Kristo di atas, pelayanan kedukaan di dalam gereja, sebenarnya merupakan pelayanan yang tidak diharapkan oleh keluarganya. “Tidak ada keluarga yang berharap ada anggota keluarga yang meninggal. Namun demikian, pelayanan kedukaan adalah pelayanan yang riil ada di jemaat dan tidak bisa dihindari,” tutur Pak Im, sapaan akrab Pendeta GKI Gunung Sahari ini.

Pelayanan di gereja itu utuh, dari pelayanan saat kelahiran hingga kematian. Pelayanan kedukaan merupakan bagian dari pelayanan utuh gereja, demikian kata Pak Im.

Dalam firman Tuhan, lanjut Pak Im, Alkitab menuliskan pergi ke rumah duka lebih baik daripada pergi ke rumah pesta. Ada penekanan tersendiri. Itu artinya gereja sepantasnya memberikan bagian dari pelayanannya ke pelayanan kedukaan. Firman Tuhan mengatakan, bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis. Jadi, pelayanan kedukaan sebenarnya adalah pelayanan etis teologis yang harus dilakukan oleh gereja dalam simpati gereja kepada mereka yang mengalami kedukaan.

Melayani Secara Inklusif

Dari sisi sosial, PPK Tabitha merupakan Badan Pelayanan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sinode Wilayah Jawa Barat yang secara khusus mengurus kedukaan. Namun demikian, seperti dijelaskan Pak Im, gereja memiliki komitmen bahwa pelayanan ini terbuka untuk semua orang dalam rangka kesungguhan untuk berbagi ruang. Oleh karena itu, PPK Tabitha tidak hanya melayani umat Kristen, melainkan juga umat di luar Kristen. “Bahkan saudara-saudara kita yang Muslim ada yang mempercayakan pelayanan itu kepada Tabitha. Misalnya mobil jenazah PPK Tabitha sangat terbuka untuk dipakai oleh lapisan masyarakat mana pun dan dari agama apa pun,” terangnya.

Sebagai lembaga sosial, PPK Tabitha berusaha mengembangkan pelayanan inklusif – dalam arti juga melayani pelayanan kedukaan umat agama dan kepercayaan lain. Berkaitan dengan aspek pelayanan dan profesionalitas, pelayanan PPK Tabitha juga mencakup penyediaan keperluan ritualnya. Hal ini memang sempat menimbulkan pertanyaan.

Menanggapi hal ini, Pdt. Imanuel Kristo menyatakan bahwa hal itu berkaitan dengan prinsip untuk melayani lebih luas. Menurut Ketua 1 PPK Tabitha ini, tidak ada cara lain selain bersikap lebih inklusif kalau mau menghadirkan berkat Tuhan lebih luas bagi banyak orang. “Dalam kesungguhan pelayanan kita, maka kita justru bisa berelasi dengan semua orang dari keyakinan lain. Itu baik-baik saja selama ini. Bisa saja orang berpikir lain, tapi kami punya konsep soal keterbukaan. Kami tidak merasa bahwa hal itu merupakan sesuatu yang salah. Justru karena itu PPK Tabitha semakin menghadirkan cinta Tuhan yang sesungguhnya. Bukankah Tuhan menghadirkan matahari buat semua orang, siapapun orang itu? Bahkan ditulis seperti itu karena Allah bukan ekslusif milik kelompok tertentu. Karena pemahaman itu, kami mau menjadi alat Tuhan yang sepatutnya,” tandas Pak Im.

Dalam relasi inklusif itu justru membuka peluang bekerja sama dengan umat dari keyakinan lain. Seperti dikatakan Pak Im, “Kami tidak menguasai ritual keyakinan lain, oleh karena itu kami dibantu oleh teman-teman kami dari keyakinan lain yang menjadi partner dari PPK Tabitha.”

Menyeimbangkan Pelayanan & Usaha

Menyeimbangkan antara pelayanan dan bisnis kerap menjadi kendala bagi lembaga pelayanan di bawah gereja. Tak heran jika banyak upaya pelayanan yang layu sebelum berkembang. Bagaimana dengan PPK Tabitha? Sebagai unit pelayanan di bawah GKI Sinode Wilayah Jawa Barat, PPK Tabitha justru mampu berkembang secara profesional.

Untuk bisa berkembang hingga saat ini, Ketua Umum PPK Tabitha Tan Tiong Gie menerapkan prinsip profesionalitas dan kristiani. “Di Tabitha saya menerapkan kebijakan profesional dan kristiani. Bekerja secara profesional , tapi tidak boleh semena-mena dengan menetapkan biaya yang tidak masuk akal. Itu tidak boleh. Pengelolaan Tabitha haruslah kristiani tidak saja bertanggungjawab kepada stakeholder-nya, tetapi yang utama bertanggung jawab kepada Tuhan,” ujarnya tegas.

Misalnya berkaitan dengan kualitas produk, Pak Tan, demikian panggilan akrab pria asal Nusukan, Solo ini, menjelaskan bahwa kebijakan Tabitha adalah menerangkan dengan transparan bahan produk peti-2 kami kepada keluarga. Ada yang terbuat dari kayu dan ada yang terbuat dari MDF (Medium-Density-Fibreboard).. Tabitha menjelaskan karakter dari tiap bahan peti tersebut sehingga keluarga dapat memilih produk peti yang dibutuhkan dan sesuai dengan kemampuan keuangannya.

Tabitha melayani semua tingkat ekonomi – dari yang tidak mampu membayar sampai yang sangat kuat ekonominya. Berdasarkan prinsip kristiani, Tabitha melayani mereka semua dengan kualitas pelayanan yang sama tanpa memandang status ekonominya. Tabitha selalu menyediakan dana untuk memberikan pelayanan gratis kepada keluarga yang tidak mampu.

Menurut Pdt. Imanuel, mendapat profit itu bukan dosa. Bahkan, profit merupakan keharusan. “Jika tidak ada profit, kita tidak bisa membiayai pelayanan gratis kepada masyarakat yang tidak mampu ekonominya. Profit itu berkat. Tugas kita adalah mengelola berkat itu,” ungkap Pak Im.

Harus ingat, lanjut Pak Im, kalau kita tidak punya uang, tidak punya dana, kita tidak bisa melakukan pelayanan lebih banyak dan lebih luas lagi. Itu berarti kita tidak bisa menghadirkan berkat Tuhan lebih banyak lagi.

Dengan melakukan pelayanan yang profesional dan kristiani, PPK Tabitha justru mendapat nilai tambah secara ekonomi. Menurut Pak Tan, menata pelayanan untuk menjadi lebih baik ini sudah dimulai sejak awal. Namun, peluang itu makin terbuka ketika PPK Tabitha diberi kesempatan mengelola Rumah Duka di RS Husada.

Dalam kaitan kesungguhan untuk menjadi berkat, PPK Tabitha juga selalu menyisihkan sisa hasil usaha untuk program CSR (Corporate Social Responsibility). Pak Tan menjelaskan, “Dana CSR ini dipakai untuk mendukung lingkungan sekitar tempat kegiatan PPK Tabitha, gereja, dan lembaga-lembaga lain yang memang membutuhkan. Untuk yang kurang mampu, kami memberikan pelayanan gratis tanpa memandang asal usul, agama, dan kepercayaan mereka. Persyaratannya sangat mudah, yaitu surat keterangan dari RT/RW setempat, yang menegaskan bahwa yang bersangkutan tidak mampu.” (Gie)


Lainnya