Liputan Khusus INSPIRASI Vol. 96/Juni-Juli 2018 (Revisi)

Pelayanan kedukaan terbilang unik. Keberadaannya cenderung dihindari. Tetapi, pada saat tak terduga sangat dibutuhkan.

“Orang tidak senang bicara soal kematian. Sehari-hari tidak dibicarakan. Kematian belum terjadi, tetapi pasti akan terjadi. Pada saat kedukaan terjadi, orang terkejut. Gugup. Bingung. Dan, itu terjadi pada tiap keluarga, tiap rumah. Tidak ada rumah yang bisa luput dari kematian. Pada saat itulah Tabitha diperlukan sebagai pihak yang membantu. Menjadi teman di kala duka,” tutur Andar Ismail yang selama 50 tahun menjadi pendeta jemaat.

Pemandu sebagai Sahabat

Meskipun tidak diinginkan, kematian merupakan keniscayaan. Kapan waktunya? Tidak seorang pun tahu. Saat kematian menjemput anggota keluarga, beragam emosi bercampur aduk. Marah, sedih, kaget, kecewa, dan sebagainya. Terlebih jika yang meninggal adalah anggota keluarga yang sangat dekat.

Setelah goncangan jiwa, keluarga harus memikirkan upaya mengurus jenazah, surat-surat, dan memberitahukan kepada sanak keluarga serta sahabat dan rekan kerja atau relasi. Di tengah duka, gundah penuh dilema, kehadiran sahabat, bahu untuk bersandar, sangatlah dibutuhkan di saat yang paling rapuh.

“Sobat Di Kala Duka”, begitu motto Perkumpulan Penghiburan Kedukaan (PPK) Tabitha. Tentu bukan tanpa alasan bagi pelayanan yang lahir dari rahim Gereja Kristen Indonesia Sinode Wilayah Jawa Barat ini. Kelahiran dan keberadaannya merupakan bentuk kepedulian untuk mengurus, membantu, dan melayani teman-teman yang sedang berduka. Ada banyak keputusan yang tidak mudah diambil oleh anggota keluarga yang ditinggalkan.

Dalam pelayanan kedukaan, PPK Tabitha menyediakan pemandu yang mendampingi keluarga yang berduka sejak awal pengantaran peti hingga pemakaman/kremasi. Pemandu juga mengingatkan semua jenis surat yang harus dilengkapi.

Sebagai sahabat, pemandu mendampingi seluruh kegiatan ibadah yang berlangsung, mulai dari ibadah penghiburan, tutup peti, malam kembang, serta ibadah pelepasan. Pada saat menuju pemakaman, pemandu juga mengatur mobil-mobil pengantar, mengurus karcis parkir sehingga keluarga dan rombongan dapat mengikuti iring-iringan tanpa tertinggal.

Kilas Balik

PPK Tabitha merupakan yayasan nirlaba untuk melayani siapa saja yang membutuhkan. Awalnya, Tabitha didirikan karena adanya kebutuhan pada pelayanan diakonia, terutama melayani keluarga kurang mampu. Kini telah berkembang dengan pelayanan untuk lintas agama.

Menilik perjalanan selama 50 tahun ini, PPK Tabitha bermula dari gagasan Liman Suhendra. Sebagaimana tertulis dalam dalam Buku Peringatan 45 Tahun Tabitha, di sela-sela rapat Klasis di GKI Gunung Sahari, Liman melontarkan gagasan kepada Pdt. Lukito Handoyo (Lie King Han), mengenai perlunya gereja membantu jemaat miskin yang berada dalam kedukaan dengan menyediakan peti mati gratis.

Gagasan itu disambut dengan antusias. Rapat pun memutuskan untuk membentuk yayasan dengan nama Yayasan Pemakaman Kristen (YPK) Tabitha pada 23 Juli 1968. Nama Tabitha dipilih merujuk pada seorang perempuan di Yope yang banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah (lih. Kis. 9:36).

Liman bukan sekadar melontarkan ide. Setelah dibentuk kepengurusan, rumahnya menjadi kantor pertama karena ada pesawat telepon yang terbilang langka saat itu. Liman merintis banyak hal, seperti membeli kain tile, kembang tangan, minyak wangi, hingga mengenakan pakaian pada jenazah. Ketika Pdt. J.H. Sunarko menggantikan tugas Liman pada 1976, seluruh pelayanan YPK Tabitha diserahkan kepada Sinode GKI Jawa Barat.

Tahun 2003, YPK Tabitha berganti nama menjadi Perkumpulan Penghiburan Kedukaan (PPK) Tabitha. “Misinya tetap, yaitu mengurus jenazah dari tempat wafatnya sampai pemakaman/kremasi sehingga keluarga yang sedang berduka terbantu di saat yang berat itu. Seiring dengan kemajuan di semua bidang, maka tak terkecuali PPK Tabitha dituntut untuk menjadi badan yang profesional dalam menjalankan misinya,” ujar Ketua Umum PPK Tabitha Tan Tiong Gie.

Mengembangkan Profesionalitas

Dalam memimpin PPK Tabitha, kakek enam cucu yang akrab disapa “Pak Tan” ini menerapkan prinsip profesional dan kristiani. “Bekerja secara profesional, tapi tidak boleh semena-mena. Ada batasan profit. Kita harus melayani sebaik-baiknya, dan tidak boleh menipu,” tandasnya.

Menurut GM PPK Tabitha, Daniel S. Rochmadi, pelayanan kedukaan merupakan pelayanan unik karena tidak bisa diulang sehingga harus diupayakan sempurna sejak awal.

Memasuki usia emas ke-50 PPK Tabitha, Pak Tan menyatakan tekadnya untuk maju terus dan mengikuti dinamika perubahan. “Kita bersyukur kepada Tuhan diberikan jalan, hikmat, dan akal budi. Kita bisa berkembang karena punya tim yang solid yang kerja samanya bagus, baik di pengurus maupun di manajemen. Tantangannya adalah membangun rumah duka dan krematorium. Selain itu juga mencari SDM profesional yang mau melayani karena ini pelayanan 24 jam,” ungkapnya.

Sejak dua tahun lalu, PPK Tabitha memulai menerapkan kebijakan CSR (Corporate Social Responsibility). “Sudah berjalan 2 tahun ini. Dana CSR ini 50% diberikan ke sinode dan 50% dikelola sendiri,” kata Pak Tan.

Rumah Duka

Hingga saat ini PPK Tabitha belum memiliki rumah duka sendiri karena kesulitan mendapatkan izin membangun rumah duka. Upaya membangun rumah duka ini sudah dimulai tahun 1990-an. Saat itu Pak Tan ditunjuk menjadi ketua pembangunan rumah duka. Ternyata banyak kendala yang dihadapi. “Setelah sampai di walikota, baru tahu kalau membangun rumah duka di Jakarta itu hampir mustahil izinnya. Mengapa? Karena dalam radius 500 meter dari rumah duka tidak boleh ada sekolah, tempat ibadah, dan tidak boleh ada keluarga yang menolak,” tutur pak Tan.

Di tengah upaya itu, PPK Tabitha mendapat tawaran untuk mengelola Rumah Duka Husada. PPK Tabitha juga bermitra dengan beberapa rumah duka lainnya di Jakarta. “Selain itu, PPK Tabitha juga dapat melayani kedukaan di rumah atau tempat tinggal,” tambah Pak Tan.

Pak Tan menyampaikan bahwa saat ini, Tabitha sedang merintis kerjasama dengan RS Sumber Waras, RS UKI, RS Ukrida dan kemungkinan dengan GKI Jatim Surabaya untuk membangun dan menoperasikan rumah duka yang lebih lengkap sarananya.

Pelayanan Paripurna

PPK Tabitha menyediakan pelayanan paripurna, mulai dari peti jenazah berbagai jenis sesuai dengan kebutuhan, pelayanan dekorasi dan bunga, catering, foto & video liputan, iklan dukacita. Penjemputan jenazah hingga pengantaran ke peristirahatan terakhir dengan mobil jenazah standar hingga ekslusif (Toyota Alphard) disertai pengawalan mobil & motor voorijder.

Sebagai upaya untuk melayani lebih luas, PPK Tabita juga melayani umat lain. Misalnya menyediakan berbagai jenis peti dengan ornamen khusus bagi umat Buddha dan Konghucu, termasuk perlengkapan upacaranya. Sedangkan untuk umat Islam, tersedia kain kafan dan pelayanan mobil jenazah.

Pengembangan Kepesertaan.

Hingga saat ini PPK Tabitha telah memiliki lebih dari 21 ribu anggota. Uniknya, sebagian besar anggota justru berasal dari luar GKI. Untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat pada saat kedukaan, PPK Tabitha menawarkan 3 macam program kepesertaan. Program ini memberikan kepastian pelayanan kedukaan berupa peti dan mobil jenazah sebagai kebutuhan dasar.

PPK Tabitha menyediakan 3 paket kepesertaan, yaitu: Paket KASIH, Paket PENGHARAPAN & Paket IMAN PLUS dengan kelebihan dan keunggulan masing-masing sesuai kebutuhan. Paket KASIH sebagai paket paling dasar dan sederhana. Paket PENGHARAPAN merupakan paket menengah yang dirancang untuk menghadirkan kesan elegan. Paket IMAN PLUS adalah paket premium untuk memberikan kesan ekslusif dan mewah. 

Donasi

PPK Tabitha memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk ikut berpartisipasi membantu keluarga yang berduka. Ada tiga pilihan, yaitu: Donasi, Voucher, dan Sertifikat Kedukaan untuk membantu dengan membelikan paket kedukaan yang mencakup peti, ruangan, dan lainnya.

Bagi mereka yang ingin membantu atau membutuhkan pelayanan kedukaan atau informasi lebih lanjut, dapat menghubungi call-center di: 0804-1-50-11-11 atau 0821-5000-11-11. Staf pelayanan Tabitha siap melayani 24 jam setiap hari di sepanjang tahun.

Lima puluh tahun sudah PPK Tabitha menjadi teman di tengah kedukaan. Untuk pelayanan ke depan, Pak Tan yang telah memasuki periode kedua sebagai Ketua Umum menyatakan tekadnya, “Tetap, menjadi sobat di kala duka. Itu yang penting. Itu harus kita pertahankan. Kebijakan ke depan, kita harus meningkatkan kualitas pelayanan kristianinya.” (Gie)